Minggu, 04 Mei 2014

Esai Esai

                                               Kebaikan dibalik Kesederhanaan

Hidup dalam kesederhanaan merupakan salah satu yang diajarkan dalam agama islam. Islam mengajarkan lewat contoh teladan yakni Nabi Muhammad SAW yang memiliki pribadi sederhana. Allah juga melarang segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan. Sebagaimana ayat yang diturunkan dalam surat Al-araf ayat 31 yang artinya “makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” Makna dari ayat diatas menerangkan bahwa dalam segi hal terkecil pun seperti makan dan minum Allah sudah melarang menkonsumsinya secara berlebihan. Kemudian diperjelas dengan ayat selanjutnya yakni  Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Dibalik perintah dan larangan pasti ada hikmah. Hikmah dari larangan makan dan minum secara berlebihan adalah untuk kebaikan kita sendiri. Karena makan secara berlebihan akan menimbulkan berbagai macam penyakit. Seperti yang disebutkan dalam hadits “kullu daain albardatu”Dalam era globalisasi  seperti yang terjadi di zaman sekarang ini, sulit mendapatkan manusia yang hidup dalam kesederhanaan sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Manusia yang hidup dalam zaman modern seperti ini cenderung memprioritaskan hidup dalam kemewah-mewahan. Globalisasi dan pengaruh dari luar telah mengambil banyak peran dalam kepribadian seorang muslim. Yang lama-kelamaan akan merambat dan beradaptasi menjadi karakter yang jauh dari sifat aslinya.Hidup secara bermewah-mewahan sudah menjadi hal yang lumrah bahkan menjadi ajang perlombaan dalam meningkatkan kualitas hidup. Orang cenderung malu bahkan tidak percaya diri apabila hidup dengan hal yang sederhana. Dari mulai tempat tinggal, pakaian, sampai cara makan pun harus dilakukan dengan cara yang dicontohkan bangsa barat. Kiblat seorang muslim sudah melenceng ke arah yang tidak seharusnya.Banyak kaum muslimin yang meninggalkan sunnah Rasulullah karena terpengaruh dengan tradisi dan budaya orang-orang Eropa yang kafir. Yaitu tradisi dan budaya yang didasarkan pada prinsip materialistik yang tidak mengenal penciptanya dan bersyukur kepada nikmat-nikmat-Nya yang salah satunya adalah makan menggunakan tangan. Sebagaimana dicontohkan oleh nabi lewat hadits yang berbunyi: “Sesungguhnya Rasulullah SAW makan dengan 3 jari, dan kalau sudah selesai makan beliau menjilatinya.” (HR. Muslim). Umat muslim pada era globalisasi ini, lebih menyukai makan dengan menggunakan sendok, garpu, pisau dan sebagainya. Tentang hadist di atas, Ibnu Utsaimin r.a mengatakan: “Dianjurkan untuk makan dengan tiga jari, yaitu jari tengah, jari telunjuk, dan jempol, karena hal tersebut menunjukkan tidak rakus dan ketawadhu’an.” http://www.thibbun.com/thibbun-nabawi/pola-makan-rasulullah.html(diunduh pada tanggal: 20 Maret 2014 pukul: 14.40)
Apa rahasia dibalik sunah makan menggunakan tangan? Ternyata makan menggunakan tangan dapat membantu dalam proses pencernaan makanan. Ini bisa dibuktikan melalui percobaan menggunakan dua mangkuk nasi. Apabila kita mengaduk mangkuk yang berisi nasi yang pertama menggunakan tangan, sementara mangkuk yang lain diaduk menggunakan sendok, maka nasi yang diaduk menggunakan tangan akan lebih cepat basi sementara yang diaduk menggunakan sendok akan tahan hingga 24 jam. Mengapa bisa demikian? Hal ini terjadi karena di sela-sela jari tangan terdapat enzim pengurai, yang memudahkan alat pencerna dalam lambung manusia.
Banyak yang mengatakan bahwa makan menggunakan tangan lebih menyehatkan. Itu memang benar adanya. Karena seperti yang telah disebutkan tadi, di dalam tangan terdapat enzim RNAse yang dapat mengikat bakteri, sehingga tingkat aktivitasnya sangat rendah ketika masuk bersama makanan ke saluran pencernaan tubuh.Pada dasarnya, tujuan utama enzim RNAse ini digunakan dalam analisis genetik, dengan tujuan mendegradasi RNA, sehingga yang tinggal dari sebuah sel hidup adalah DNA-nya. httppaparetta.wordpress.com (diunduh pada tanggal: 20 Maret 2014 pukul: 14.50)
Enzim ini selalu terkandung dalam jari-jari dan telapak tangan manusia, sehingga proses penyuapan makanan ke dalam saluran pencernaan akan mengikutkan enzim yang bisa mengikat sel bakteri agar aktivitasnya tidak maksimal. Dengan asumsi, sudah dilakukan upaya menghigieniskan tangan sebelumnya. Seperti yang dikatakan Dr. Charles Gerba dari University of Arizona dalam sebuah penelitian bahwa “kita tidak mungkin menghalangi kuman dan bakteri masuk ke dalam lingkungan kita. Namun kita bisa memerangi kuman dengan cara mencuci tangan setiap sebelum dan selesai beraktivitas.”
https://www.facebook.com/permalink.php?id=103930943014245&story_fbid=373761932697810(diunduh pada tanggal: 20 Maret 2014 pukul: 14.30)
Begitu makanan masuk ke saluran pencernaan, maka enzim ini akan ikut mengikat pergerakan bakteri hingga ke saluran pembuangan. Sebaliknya, jika manusia makan menggunakan alat perantara seperti sendok, maka tidak ada yang bisa menahan laju aktivitas bakteri yang terkandung, baik di makanan atau alat makan itu sendiri.Segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah lewat sunah Rasulullah, pasti baik adanya. Pasti ada kebaikan tersendiri yang tersimpan dibaliknya. Seperti contoh yang telah disebutkan diatas. Contoh lain adalah, sunah Rasul yang memerintahkan untuk makan dan minum sambil duduk. Kalau melihat budaya dan tradisi bangsa barat, mereka biasa makan dan minum sambil berdiri yang biasa mereka lakukan pada acara pesta atau semacamnya. Budaya seperti itu banyak ditiru masyarakat Indonesia yang mayoritasnya adalah muslim. Padahal, makan dan minum sambil berdiri dapat membahayakan alat pencernaan. Itu juga merupakan alasan mengapa Rasulullah memerintahkan kita untuk makan sambil duduk. Selain agar sopan, juga agar kita terjauh dari bahaya penyakit. Banyak sekali pembuktian bahwa ada  kebaikan dibalik kesederhanaan Sunah Rasulullah SAW.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar